potensi tetas penyu

Memaksimalkan Potensi Tetas dan Daya Hidup Tukik Penyu

Pada setiap musim migrasi, induk penyu meletakkan telur-telurnya di dalam pasir untuk kemudian induk penyu akan masuk kembali ke laut. Secara alamiah telur-telur ini akan menetas dalam waktu 51 hari untuk jenis penyu Lekang, dan berbeda kurang lebih untuk jenis penyu lainnya.

Setelah cukup waktu, tukik anak penyu akan menetas dan kemudian masuk ke laut. Akan tetapi banyak hal yang kemudian menjadikan jumlah tetas maupun daya hidup tukik menjadi rendah atau bahkan gagal tetas. Beberapa faktor yang menjadi penghambat kehidupan tukik penyu diantaranya:

1. Pergeseran Musim

Normalnya, musim migrasi adalah di musim kemarau, atau sekitar bulan Mei sampai bulan September di setiap tahunnya. Akan tetapi sering kali ada satu dua sarang yang tiba di awal atau akhir musim migrasi. Efeknya adalah proses pengeraman terganggu oleh turunnya hujan. Suhu dan kelembaban yang tidak stabil serta pasir yang lebih basah mempengaruhi daya tetas telur penyu.

2. Ancaman Abrasi Pantai

Pantai Goa Cemara secara geografis terletak persis di tengah-tengah dua sungai besar di DI Yogyakarta. Sungai Progo di sebelah barat, dan Sungai Opak di sebelah timur. Dua sungai ini membawa material erupsi dari Gunung Merapi hingga ke Samudera Indonesia. Sebagai salah satu gunung paling aktif di dunia yang secara periodik mengalami erupsi kecil setiap empat tahun sekali, dan erupsi besar setiap sepuluh tahun sekali. Lava dari muntahan erupsi Gunung Merapi kemudian terbawa oleh sungai-sungai kecil yang akhirnya bergabung di Sungai Progo dan Sungai Opak.

Pada saat sampai di lautan, material tersebut sudah berbentuk kerikil kecil dan pasir. Ombak kemudian menghempaskan material ini ke arah daratan, setiap hari, selama ratusan tahun. Membentuk hamparan pasir di sepanjang pantai selatan dengan ketebalan hingga 1200m sampai ke perkampungan.

Ombak di Samudera Indonesia cukup kuat, terbilang besar setiap waktu, dengan ketinggian antara 1,5 hingga 7 meter. Hal ini juga dipengaruhi dengan ketinggian dan intentisas ombak periodik setiap hari di waktu malam, periodik bulanan di bulan purnama, periodik musim, dan juga beberapa periodik tahunan. Ditambah juga dengan fenomena cuaca seperti El Nino dan pemanasan global yang membuat ketinggian air laut meningkat.

Intinya adalah bahwa pada dasarnya ombak setiap hari ada dan mengikis pasir pesisir, namun selalu kembali dan membawa material yang lebih banyak, selama ratusan tahun, hingga membentuk jajaran pantai pasir di Yogyakarta. Meski hal ini terjadi hanya sampai akhir milenium kedua.

Pasir yang melimpah juga dimanfaatkan masyarakat sepanjang bantaran sungai untuk ditambang secara tradisional untuk kemudian dijual sebagai bahan bangunan. Tercatat sampai dengan tahun 1992 garis pantai selatan masih stabil, meskipun sudah tidak ada pergerakan penambahan ke arah laut.

Namun mendekati tahun 2000, abrasi mulai terlihat. Beberapa gumuk dan pepohonan di sepanjang pantai mulai tergerus ombak. Hal ini kemudian diperparah dengan penggunaan alat tambang bermesin, seperti mesin sedot hingga alat berat. Dalam 25 tahun terakhir, garis pantai sudah bergeser ke arah daratan sejauh kurang lebih 100 meter, dan terus bergerak.

Ancaman pergerakan karena abrasi ini terhadap proses perkembang biakan penyu cukup banyak dan sampai pada titik krisis, diantaranya :

  1. Perubahan material pasir pantai dengan tidak adanya material kiriman, membuat kontur pantai berubah, termasuk tingkat kelandaian dan tingkat kelembutan pasir mempersulit pemilihan lokasi sarang induk penyu.
  2. Pengikisan pasir terutama di Gunungkidul dan Bantul bagian timur serta di Kulon Progo  bagian barat memunculkan karang sehingga menyulitkan jalur pendaratan.
  3. Telur penyu membutuhkan waktu kurang lebih 50 hari untuk menetas tergantung jenis penyu. Dipendam dengan jarak sekitar 50 meter dan kedalaman 40 cm hingga 60 cm. Sehingga jika abrasi sangat mungkin telur penyu akan terendam dan gagal tetas atau bahkan  hanyut terbawa ke laut sebelum menetas.

3. Pemburu dan Predator

Sebagai makhluk, penyu juga menjadi bagian dari rantai makanan. Bahkan penyu mempunyai tingkat resiko yang lebih tinggi, karena selain sebagai penjelajah, penyu juga memerlukan naik ke daratan dalam siklus hidupnya. Hewan apapun di lautan yang ukurannya lebih besar berpotensi menjadi pemangsa penyu, terutama ketika masih tukik atau penyu kecil, karena karapas atau batok pelindung penyu baru akan keras berfungsi efektif ketika penyu berumur lebih dari 5 tahun.

Ketika di daratan, tidak hanya induk penyu saja yang terancam perburuan. Telur-telur penyu maupun tukik anak penyu menjadi sasaran empuk oleh hewan buas di daratan, karena memang posisinya yang tidak bergerak. Bau amis dari telur maupun tukik juga menarik pemangsa.

Khususnya induk dan telur penyu, ancaman perburuan juga datang dari manusia. Meskipun, di wilayah zona konservasi Pantai Goa Cemara sudah tidak pernah terjadi kasus perburuan telur semenjak disosialisasikannya undang-undang pelestarian.

Tukik penyu yang baru saja menetas juga sangatlah rentan, karena mereka masih membawa kuning telur sebagai cadangan makanan. Selain belum lincah bergerak, kuning telur di bagian perut tukik juga rawan pecah tergerus pasir ketika menuju ke laut. Tidak hanya memancing pemangsa darat seperti anjing, kucing, dan sebagainya, tukik-tukik yang bergerombol juga menarik perhatian burung pemangsa. Belum lagi ketika masuk ke dalam lautan, tukik-tukik ini ibarat seperti umpan kail yang siap dimakan ikan apa saja yang ukurannya lebih besar.

4. Sampah Kiriman

Keberadaan sampah terutama plastik di laut dangkal dan pesisir terutama yang terpendam di pasir sangat mengganggu proses perkembang biakan penyu,

  1. Sampah plastik di pesisir mengganggu induk penyu dalam menentukan lokasi penggalian sarang. Tak hanya kesulitan mencari titik sarang yang ideal, sampah juga mengganggu proses penggalian. Tak jarang juga ditemukan sampah baik plastik maupun botol kaca yang didalamnya mengandung zat beracun, baik itu kimia atau isi produk kemasan  yang membusuk. Sampah di darat ini juga menyulitkan atau bahkan menjebak tukik penyu ketika menetas dan menuju ke laut.
  2. Posisi sampah yang terpendam di dalam pasir selain menyulitkan penggalian sarang oleh induk penyu, kandungan di dalamnya merusak pasir. Bahan pembungkus ataupun isiannya yang bermacam-macam menjadikan sarang terkontaminasi racun. Pun ketika tukik penyu sudah menetas, secara alamiah dia akan bergerak ke permukaan. Tak jarang pergerakan ini terganggu oleh sesobek kecil plastik, sehingga tukik tidak bisa naik dan bernafas. Rata-rata pergerakan ini adalah di malam hari, dan ketiga gagal naik sampai di keesokan harinya, tukik-tukik ini akan mati terjemur di bawah pasir. Satu tukik yang mati, dalam beberapa hari akan menjadi amonia atau nitrogen yang akan meracuni ratusan tukik lainnya dalam satu sarang.
  3. Sampah plastik di perairan lebih buruk lagi akibatnya, selain tak terkendali dan tak terhitung jumlahnya, bentuknya bermacam-macam. Tak hanya mikro plastik saja, plastik kecil dan besar baik yang mengambang maupun di dasar laut tidak bisa dikontrol. Sampah ini menjadi pembunuh tukik dan bahkan induk penyu akibat termakan dan juga menjerat atau menjebak penyu. Sampah di dasar juga mempengaruhi habitat sementara penyu di perairan dangkal.

5. Pembangunan Infrastruktur di Pesisir

Jumlah penduduk dunia semakin meningkat, dengan lebih dari separuhnya berpusat di Asia Tenggara. Indonesia menyumbang 270 juta jiwa, dan terkonsentrasi di Pulau Jawa dengan jumlah penduduk lebih dari 150 juta jiwa.

Perkembangan jumlah penduduk tersebut kemudian memicu perluasan lahan untuk aktifitas dan hunian. Selain bangunan tempat tinggal, sarana prasarana pendukung juga semakin mendesak habitat hewan liar, termasuk penyu. Dampak dari pembangunan dan aktifitas di pesisir terhadap penyu antara lain :

Desakan Area

Bangunan di pesisir mendesak lingkungan hidup habitat, mulai dari hewan kecil di perairan payau muara hingga daerah perairan dangkal, hingga hewan-hewan dalam satu ekosistemnya. Bangunan-bangunan di muara Opak dan Progo misalnya, mendesak lingkungan dan merubah aliran sungai, yang berefek pada terganggunya habitat hewan kecil di perairan payau, dan merembet ke ekosistem seperti perilaku burung migran, yang pada akhirnya akan merubah pola hidup seluruh hewan yang ada di sekitarnya, termasuk penyu.

Penghalang Jalur Pendaratan

Posisi bangunan yang bersinggungan langsung terhadap perairan, atau bangunan yang sebelumnya jauh tapi kemudian terdesak abrasi sehingga masuk di perairan akan menjadi penghalang ketika induk penyu melakukan pendaratan. Pun ketika induk penyu berhasil menyisir dan menemukan lokasi untuk sarang, tetasan tukik akan kesulitan bahkan terjebak pada celah bangunan. Contoh, bangunan pendukung tambak, pemecah ombak, dan lain-lain.

Mengacau Jalur Navigasi

Terutama untuk bangunan hunian dan aktifitas pesisir, keberadaan lampu yang terlihat dari pesisir mengganggu ataupun menakuti induk penyu yang akan melakukan pendaratan, yang memang sebagian besar dilakukan pada malam hari. Induk terutama akan kesulitan mencari arah daratan, dan beberapa jenis lampu juga menyilaukan.

Hal yang lebih fatal terjadi ketika tukik anak penyu menetas. Tukik yang seharusnya berjalan ke arah perairan akan berjalan ke arah lampu. Selain kemudian riskan dimangsa predator darat, tukik juga bisa mati terjemur ketika terjebak di darat sampai siang hari.

Penanganan dan Perawatan Telur, Tukik, dan Habitatnya

Ranger konservasi di KKP Mino Raharjo dalam kegiatannya sehari-hari dititik beratkan pada pengawasan habitat penyu dengan pemeliharaan lingkungan, sementara di musim migrasi lebih fokus kepada penanganan dan pengamanan pendaratan penyu.

1. Patroli Pesisir

Penyisiran dilakukan terus menerus di zona konservasi dan sekitarnya. Tidak hanya di pantai, pengamatan juga dilakukan di wilayah daratan. Kegiatan ini dilakukan untuk mendapatkan informasi terkini tentang keadaan pantai. Pengumpulan informasi selain dari patroli langsung oleh ranger konservasi juga dibantu oleh seluruh warga masyarakat yang mata pencahariannya di pesisir. Nelayan, petani, pelaku wisata, dan bahkan dari warga masyarakat umum yang berkunjung ke pantai.

Patroli pengamanan dan pengamatan pendaratan dilakukan malam hari, karena sebagian penyu mendarat di malam hari. Sementara penyisiran dilakukan pagi buta sebelum matahari terbit di sepanjang jalur pendaratan. Informasi ini terkait keadaan pesisir, kemunculan penyu, keberadaan telur penyu, keadaan habitat, potensi predator, dan juga hal-hal terkait ancaman untuk penyu.

2. Penanganan Telur Penyu

Ketika informasi pendaratan sudah dimulai, patroli dilakukan lebih intens oleh ranger konservasi di seluruh zona pendaratan.

Penandaan Lokasi Pendaratan Penyu

Pada saat ditemukan sarang, hal yang dilakukan adalah identifikasi dan penandaan titik lokasi. Penandaan dilakukan dengan pembagian zona pendaratan ataupun dengan GPS handphone.

Jika tidak ditemukan potensi ancaman dalam masa tetas seperti ancaman abrasi, predator, aktifitas manusia, sampah, bahan kimia, dan lain-lain, maka sarang akan ditandai saja. Selanjutnya dilakukan patroli pengawasan dan penanganan terhadap tetasan tukik penyu.

Relokasi Telur Penyu

Ketika ditemukan ancaman terhadap keberlangsungan sarang, maka perlu relokasi atau pemindahan sarang. Identifikasi dan pencataan dilakukan diantaranya titik lokasi, jumlah telur, waktu pendaratan, jenis penyu, dan lain-lain. Relokasi ini dilakukan oleh ranger konservasi atau anggota yang telah dibekali pengetahuan tata cara pemindahan. Telur-telur ini kemudian dibawa ke Rumah Konservasi untuk ditetaskan.

Penetasan Telur Penyu

Telur penyu yang dibawa ke Rumah Konservasi akan langsung masuk ke tahap pengeraman. Ada dua cara penetasan di KKP Mino Raharjo yaitu dengan metode semi alami dan juga dengan bantuan alat. Selain data identifikasi awal, sarang kemudian juga ditandai dengan tanggal perkiraan waktu tetas. Rata-rata waktu pengeraman untuk jenis penyu Lekang, Hijau, dan Sisik sekitar 51 hari, serta jenis penyu Belimbing kurang lebih 70 hari.

1. Penetasan Semi Alami

Metode tetas pokok di rumah konservasi yaitu dengan semi alami. Telur penyu dipendam di area pendam dengan kedalaman dan posisi seperti ketika ditemukan.

Area pendam di rumah konservasi adalah ruang terbuka berisi pasir yang diganti setiap musim untuk menjaga kemurnian dan porositas pasir. Dengan ukuran 3m x 7m, area ini mempunyai kapasitas hingga 40 sarang dalam sekali waktu yang bersamaan.

Tetas semi alami dipilih dalam rentang cuaca tanpa hujan dengan panas stabil dan menjadi metode utama karena pertimbangan tingkat alamiah tetasan dan juga pengaturan jenis kelamin sesuai alam.

2. Penetasan dengan alat/mesin

Penetasan dengan alat di KKP Mino Raharjo difungsikan pada rentang rentan cuaca, di awal dan akhir musim migrasi, atau di saat ada pendaratan yang diluar musim. Rentang ini mempunyai potensi gagal tetas karena suhu dan kelembaban yang belum stabil karena masih ada hujan.

Metode tetas dengan bantuan hanya sebagai alternatif bantuan dan sebagai kebutuhan uji penelitian, dikarenakan setelan suhu hanya bisa menghasilkan dominasi satu jenis kelamin dan dalam bebearapa kasus terjadi masa tetas yang  lebih lama.

Selain untuk efektifitas waktu pengeraman, efektifitas tempat, metode ini juga lebih baik dalam hal jumlah  prosentase keberhasilan tetas.

Alat bantu tetas di KKP Mino Raharjo dengan mesin tetas saat ini menggunakan dua mesin, Intan Box sebagai penetas dan Sari Box sebagai penghangat sementara, dari hasil penelitian Banyuwangi Sea Turtle Foundation atas prakarsa dan pembiayaan dari CSR Bank Central Asia 2024.

3. Penanganan Tukik Penyu

Pengamatan sarang dilakukan terus menerus dan lebih intens ketika mendekati waktu tetas. Hal ini bisa berlangsung beberapa hari dalam satu sarang karena sangat mungkin waktu tetas telur penyu dalam satu sarang tidak bersamaan.Untuk sarang pendam, tanda dari penyu sudah hampir waktu tetas adalah penurunan tinggi pasir dalam cerukan sarang. Saat ini terjadi, sarang harus dalam pengawasan penuh oleh petugas konservasi.

Ketika baru menetas, kondisi tukik penyu masih sangat lemah, dan seluruh tubuh bahkan karapas atau cangkangnya masih lembek. Tak jarang bentuk tukik juga masih belum sempurna atau tidak simetris.

Pada bagian perut, pusar tukik juga masih terlihat menonjol, dan tak jarang kuning telur sebagai cadangan makanan juga masih ada. Pada kondisi ini tukik masih belum bisa berjalan. Tukik penyu baru bisa bergerak perlahan ke arah permukaan, dan diam di bibir sarang antara 1 – 3 jam sebelum kemudian berjalan keluar sarang. Jika terjadi di sore/malam hari, tukik bisa dibiarkan sampai berjalan keluar dengan sendirinya, tapi jika di siang hari, maka tukik harus segera dipindahkan ke dalam area teduh, atau bisa juga dengan memberi sedikit naungan pada sarang.

Setelah tukik bisa berjalan dengan sempurna, tukik dimasukkan ke dalam bak penampung sementara. Diisi air laut dengan kedalaman 10cm hingga 15cm. Pada saat ini tukik belum diberi makanan tambahan, sampai cadangan makanan di kuning telur yang terbawa habis dan pusar mulai rata. Hal ini bisa berlangsung hingga lebih dari sehari. Air laut dalam kolam diganti setiap 3 hari sekali atau jika sudah terlihat keruh/berbau.

Berikutnya tukik diberi bantuan makanan berupa daging ikan cacah sedikit demi sedikit. Berlangsung hingga tukik mulai lincah  berenang, diawali dengan tanda warna karapas mulai menghitam.

Paling cepat 3 hari dan paling lama 3 minggu, tukik penyu harus dilepaskan masuk ke dalam laut. Tukik tidak boleh terlalu lama di dalam bak penampungan karena akan menimbulkan ketergantungan dan kehilangan naluri berburu atau bertahan hidup di alam liar.

Pelepas liaran tukik penyu dilakukan sore atau malam hari, dengan jarak setara jarak sarang, atau setelah titik ombak pasang terakhir. Tukik diletakkan di pasir menghadap ke arah daratan, dan dibiarkan dengan sendirinya mencari arah lautan. Paling cepat 3 detik dan paling lama 12 menit tukik akan berbalik dan berjalan menuju arah perairan.

4. Pemeliharaan Habitat

Menjaga habitat penyu yang mampu dilakukan adalah terutama di zona pendaratan. Pengamatan kondisi pesisir dilakukan setiap waktu, dan berkala melakukan pembersihan terutama sampah plastik dan sampah lain yang menghambat pendaratan.

Sementara untuk menjaga gumuk pasir, KKP Mino Raharjo dan Dewa Patih melakukan penanaman pandan, sebagai barrier pasir sehingga keberadaan gumuk pasir di sepanjang pantai terjaga. Untuk penjagaan habitat yang lebih luas, hal yang dilakukan KKP adalah dengan kampanye pelestarian.