Kegiatan konservasi penyu di Pantai Goa Cemara kembali mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan, salah satunya mahasiswa Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta. Kehadiran mereka menambah semangat acara yang tidak hanya berfokus pada edukasi, tetapi juga aksi nyata pelestarian lingkungan.
Sebagai mahasiswa, peserta dari UAD memiliki peran penting dalam menguatkan pesan konservasi. Mereka tidak hanya mengikuti rangkaian acara, tetapi juga aktif dalam diskusi, membantu mengedukasi adik-adik peserta dari sekolah, hingga terlibat langsung dalam kegiatan bersih pantai dan pelepasan tukik. Keterlibatan ini menunjukkan bahwa kesadaran menjaga lingkungan sudah seharusnya menjadi bagian dari peran akademisi muda.
Mahasiswa UAD diajak menyaksikan secara langsung bagaimana proses konservasi dilakukan. Mulai dari penjelasan mengenai siklus hidup penyu, melihat mesin tetas dan perawatan tukik, hingga pengalaman melepas tukik kembali ke laut. Melalui pengalaman nyata tersebut, mereka mendapatkan pemahaman bahwa pelestarian satwa langka membutuhkan konsistensi, kerjasama, dan dukungan banyak pihak.
Selain aspek edukasi, keikutsertaan mahasiswa UAD juga membawa energi positif dalam suasana kebersamaan. Diskusi interaktif dengan komunitas konservasi dan masyarakat setempat memperkaya wawasan bahwa konservasi bukan hanya persoalan ekologi, tetapi juga sosial dan budaya. Mahasiswa belajar bahwa menjaga alam berarti juga menjaga keberlangsungan hidup masyarakat pesisir yang bergantung pada kelestarian lingkungan.
Partisipasi Universitas Ahmad Dahlan dalam kegiatan ini menegaskan komitmen perguruan tinggi untuk mendidik mahasiswa yang tidak hanya cerdas secara akademis, tetapi juga peduli pada isu-isu kemanusiaan dan lingkungan. Dengan semangat muda dan energi positif, mahasiswa UAD diharapkan dapat menjadi agen perubahan yang mampu menggerakkan lebih banyak pihak untuk peduli terhadap kelestarian penyu dan laut Indonesia.

