Penanganan terutama untuk penyelamatan penyu sangatlah pokok. Di setiap musim migrasi penyu, terutama pada sekitar bulan April sampai September, induk penyu berkumpul di perairan dangkal di selatan Bantul untuk mating atau melakukan perkawinan.
Penyu-penyu dari berbagai perairan di Indonesia, bahkan dari perairan Indonesia Timur, Australia, Filipina dan lain-lain, karena memang jangkauan teritorial mereka cukup jauh, bisa mencapai lebih dari 3000 mil.
Penyu betina kemudian akan mendarat di pesisir, dengan jarak sekitar 50 meter dari air, atau beberapa meter dari jangkauan ombak pasang terakhir. Mereka akan menggali pasir dengan kedalaman 40cm – 60cm, untuk kemudian bertelur dan dipendam untuk kemudian ditinggalkan kembali masuk ke laut.
Induk penyu dewasa muda sedikitnya berumur 25 tahun, dengan ukuran karapas 50 cm untuk penyu Lekang, dan bobot hingga 45 kilogram. Induk muda menghasilkan telur kurang lebih 50 butir dalam satu sarang. Sementara induk penyu tua bisa berumur sampai dengan lebih dari 150 tahun. Rekor jumlah telur dalam satu sarang yang direlokasi di Rumah Konservasi Penyu adalah 143 butir telur pada musim migrasi 2023 dan 152 butir telur pada musim migrasi 2024.
Dalam satu musim migrasi, satu induk penyu dapat mendarat bertelur hingga 2 kali. Hal ini akan berulang periodik antara 2 – 8 tahun untuk induk penyu yang sama. Penyu secara naluri akan menuju ke daratan dimana dia masuk laut pertama kali untuk melakukan perkawinan.
Induk penyu pada proses migrasi ini cukup rentan karena berbagai faktor. Perlindungan manusia sangat diperlukan terutama ketika berada di daratan.
- Perjalanan jauh menemui banyak rintangan, mulai dari serangan predator laut, gangguan kapal, perbedaan suhu dan iklim, pola makan, hingga terkurasnya energi.
- Proses ritual perkawinan di perairan dangkal sampai di akhir musim migrasi, seluruh induk penyu beserta tukik anak penyu yang menetas di awal berkumpul dalam satu area sampai nanti kembali mengarungi samudera. Berkumpulnya penyu-penyu ini rawan mengundang predator, dan seberapapun besarnya ukuran induk penyu, selalu ada predator dengan ukuran yang lebih besar. Terkonsentrasinya penyu dalam satu area juga bergantung pada ketersediaan cadangan makanan. Sementara perairan dangkal banyak terkontaminasi produk daratan, banyak induk penyu yang terluka atau mati karena menelan zat kimia ataupun sampah plastik. Penyu tidak bisa mengidentifikasi antara makanan ataupun sampah plastik.
- Penyu bergerak lincah ketika di air, akan tetapi ketika mendarat, penyu hanya mengandalkan pergerakan dengan menggunakan kaki siripnya. Berat induk penyu antara 40 kilogram sampai ratusan kilogram, apalagi ketika mendarat membawa ratusan telur di tubuhnya. Perjalanan menuju titik sarang dengan kemiringan dan kontur pasir juga cukup menguras energi. Apalagi induk penyu masih harus menggali, bertelur, dan memendamnya lagi. Tidak cukup satu, seringkali penyu membuat dummy nest atau sarang tipuan untuk mengecoh predator. Proses ini bisa berlangsung hingga sekitar satu jam, membuat induk penyu betina yang mendarat cukup lemah dan rawan, tidak dapat melindungi diri sendiri, apalagi telur-telurnya.
Berbagai ancaman terhadap induk penyu yang mendarat tersebut mengakibatkan beberapa kasus yang terjadi sehingga perlu berbagai penanganan diantaranya :
1. Penyu Terluka/Terjerat Ringan
Gangguan ringan yang sering ditemui adalah jeratan benda asing di tubuh penyu. Sampah plastik, serat tumbuhan, ataupun menempelnya hewan laut di tubuh penyu. Penanganan dan penyelamatan penyu terhadap kasus ini adalah membebaskan tubuh penyu dari gangguan benda asing.
Proses ini seringkali memerlukan bantuan alat dan perlu diperhatikan untuk tidak melukai tubuh penyu. Kemudian dilakukan pengecekan menyeluruh di tubuh penyu. Jika tidak ditemukan luka serius, penyu kembali dilepaskan menuju lautan.
2. Terluka Serius
Luka serius di tubuh penyu bisa diakibatkan dari gangguan predator laut, tertabrak atau menabrak benda produk manusia di laut, ataupun karena terjebak/terjerat benda asing dalam waktu yang lama.
Kategori luka serius dilihat dari terlihatnya daging lunak, perubahan warna/bentuk tubuh dari penyu, dan atau perubahan perilaku penyu yang jauh dari kebiasaan. Langkah penyelamatan penyu adalah dilakukan PPPK sampai dengan evakuasi penyu ke rumah konservasi. Lebih lanjut adalah pelaporan ke BKSDA atau DKP untuk mendapatkan penanganan medis yang lebih serius oleh petugas medis yang ditunjuk.
3. Kematian Penyu
Perlakuan terhadap penyu yang mati lebih banyak ke penyelidikan. Misalnya dari pengamatan bentuk, warna, keadaan sekitar kejadian, dan lain-lain.
Untuk mencari tahu kisaran waktu kematian, apakah kejadian darat atau di dalam perairan, apakah karena kecelakaan, kesengajaan, predator, atau karena usia.
Sesekali juga dilakukan pembedahan untuk mengetahui apa yang ada isi perut dan apa yang terjadi pada organ dalam.
4. Pencurian dan Perburuan Penyu
Dalam kesehariannya, upaya dari ranger konservasi adalah melakukan pencegahan. Hal ini dilakukan bersama-sama dengan divisi keamanan dari Desa Wisata Patihan dan OPD terkait.
Jika ditemukan kasus pencurian, perdagangan, atau usaha perburuan penyu, telur, serta upaya gangguan, ranger konservasi mempunyai kewenangan untuk penangkapan. Untuk pelaksanaan hukum dan penindakan, KKP Mino Raharjo menyerahkan kepada aparat terdekat.
Semua tindakan penanganan, pengamanan, dan penyelamatan penyu dicatat dan didokumentasikan untuk kepentingan analisa, riset, dan laporan.
