Perkembangan tehnologi dengan segala pemanfaatannya tidak bisa dipungkiri di sisi lain mempunyai andil terhadap masalah pelestarian. Mulai dari pembangunan, global warming, hingga banyaknya sampah industri maupun rumah tangga yang tidak dapat di daur ulang salah satunya.
Abrasi dan Pergerakan Garis Pantai
Proses terbentuknya pantai dengan pasir kiriman dari Merapi terjadi karena kekuatan ombak Samudera Indonesia yang cukup kuat dan berlangsung terus-menerus sepanjang waktu.

Ada waktu periodik harian, bulanan, dan juga tahunan dimana ombak lebih tinggi dari biasanya. Gunung Merapi secara konsisten aktif dengan erupsi kecil 4 tahunan serta erupsi besar 10 tahunan. Dengan material pasir pantai yang lembut dan tidak kokoh, abrasi setiap hari terjadi, namun ssetiap kali pula suplai pasir mengembalikannya, bahkan lebih banyak, dan sudah berlangsung sejak ratusan tahun lalu.
Namun sejak beberapa tahun belakangan, suplai pasir ini terhenti karena penambangan pasir di area hulu sungai Opak dan Progo.
Akibatnya adalah terkikisnya bibir pantai. Tercatat sejak tahun 2000an, garis pantai bergerak ke arah daratan lebih dari 50 meter. Hal ini juga diperparah dengan dampak pemanasan global yang meningkatkan ketinggian air laut serta dampak perubahan iklim lainnya seperti El Nino dan lain-lain.
Abrasi berpengaruh pada habitat penyu secara langsung. Induk penyu akan kesulitan mencari titik pembuatan sarang ketika kembali di musim migrasi tiap tahunnya karena perubahan bentuk dan kontur pantai. Induk penyu akan mendarat dan berjalan ke titik ombak terakhir pada air pasang, dengan jarak kurang lebih 30 – 50 meter tergantung kemiringan pantai. Induk akan menggali pasir sedalam kurang lebih 40 cm untuk meletakkan telur-telurnya mulai 40an hingga lebih dari 150 butir telur. Secara alamiah telur akan menetas menjadi tukik anak penyu dan kemudian kembali masuk ke laut. Sekalipun mereka dapat mendarat dan membuat sarang, jika dalam jangka waktu tetas kurang lebih 51 hari sejak dipendam terjadi abrasi, maka telur-telur penyu akan terendam dan gagal tetas. Bahkan beberapa kali ditemukan telur penyu tersapu ombak dan masuk ke laut.
Peran dari ranger konservasi adalah memantau posisi sarang, dan jika berpotensi terkena abrasi maka akan dipindahkan ke rumah konservasi.
Perkembangan Infrastruktur dan Hunian
Ledakan jumlah penduduk dunia terkonsentrasi di Asia Timur, Selatan, dan Tenggara. Sementara Jawa andil menjadi pulau terpadat di dunia dengan lebih dari 150 juta jiwa, dengan segela dampak pembangunannya.
Perkembangan bangunan infrastruktur dan hunian ke arah pantai meningkatkan aktifitas manusia ke pesisir, menggeser habitat perkembangan penyu. Gangguan dari aktifitas serta residu kehidupan manusia meningkat. Desakan area, lalu lalang manusia, penerangan pantai, limbah produksi, sampah rumah tangga, serta potensi gangguan fisik yang lain.
Pola Tinggal Penduduk
Dengan konsentrasi kepadatan di Jawa, serta daya tarik Yogyakarta yang menjadi kota pendidikan, budaya, dan wisata, berpengaruh pada pola tinggal. Sebagai daya dukung, kemudian juga menarik masyarakat di kota kecil sekitarnya untuk tinggal dan bekerja. Pelajar mahasiswa yang datang setiap tahun dan rata-rata hanya 4 tahun, ditambah dengan wisatawan yang hanya beberapa hari saja mendorong perilaku konsumsi makanan kemasan, perlengkapan, serta properti lain yang sifatnya instan dan tidak permanen.
Kultur yang heterogen juga beresiko terhadap kelestarian lingkungan. Setiap hari hampir selalu ada orang baru yang masuk ke Yogyakarta dan perlu diberi pemahaman tentang pengaruh kehidupannya terhadap eksisensi penyu dan kegiatan konservasi di pesisir selatan.
Sampah Plastik
Selain kota besar yang lain Indonesia, Yogyakarta adalah konsumen produk sekali pakai terbanyak di Indonesia. Pola tinggal sementara untuk perjalanan bisnis dan pendidikan serta pola tinggal kunjungan yang hanya beberapa hari saja mendorong konsumsi produk kemasan ataupun peralatan-peralatan sekali pakai dari plastik beserta pembungkusnya.

Di wilayah DI Yogyakarta sendiri, sampah plastik ini tidak bisa tertangani dengan baik seluruhnya. Sebagian besar sampah plastik menumpuk dan masuk ke sungai-sungai yang ada, dan menjadi satu di Opak dan Progo hingga akhirnya bermuara di laut selatan.
Sampah-sampah yang jumlahnya puluhan ton per tahun ini sebagian besar berada di perairan, dan sebagian kecil akan terbawa ombak ke pantai dan terpendam di hamparan pasir pesisir.
Pelaksanaan dan Sistem Hukum Konservasi
Berbicara tentang pelestarian lingkungan erat kaitannya dengan sistem kehidupan manusia secara menyeluruh. Hukum dan undang-undang yang secara khusus mengatur pelestarian lingkungan perlu diimbangi dengan tata kelola lini kehidupan yang lain karena semua saling terkait dan apapun itu kurang tertibnya pelaksanaan tata aturan akan menimbulkan dampak terhadap lingkungan.
Dibuatnya undang-undang masih selalu kalah cepat dengan perkembangan kehidupan manusia dengan segala baik buruknya. Semua hal pada akhirnya akan bermuara kepada lingkungan, terutama penyu di lautan. Tidak hanya fokus pada undang-undang pelestarian, tetapi hal-hal yang mengatur bidang lainnya seperti ijin produksi, tata kelola amdal, penggunaan plastik dan zat kimia, pertambangan, dan lain-lain perlu diperkuat menyesuaikan keadaan terkini.
Selain kegiatan harian, event publik yang diadakan KKP Mino Raharjo juga dimaksudkan untuk pengingat betapa pentingnya tertib hukum untuk pelestarian. Event ini juga memberikan masukan kepada generasi muda terutama akademisi agar turut serta mendampingi pelaksanaan hukum pelestarian sejak dini.
Regenerasi Pelestari
Hal yang paling sulit dalam kegiatan pelestarian adalah sosialisasi kepada generasi muda. Ada beberapa variabel yang membuat kegiatan konservasi tidak terlalu diminati.
Banyak variabel yang mempengaruhi, namun yang jelas keterbatasan informasi tentang eksistensi penyu di pantai selatan dan eksistensi KKP Mino Raharjo dengan segala kegiatannya adalah tanggung jawab semua pelaku pelestarian yang sudah memahami.

