Di kawasan Pantai Goa Cemara yang dikelola oleh Kelompok Konservasi Penyu Mino Raharjo beberapa kali ditemukan tukik jenis penyu lekang (Lepidochelys Olivacea) menetas dengan warna putih pucat, jauh berbeda dengan warna gelap alami yang biasa dimiliki tukik sejenisnya.
Orang awam akan mengartikan tukik tersebut mengalami kondisi albino. Namun jika dilihat lebih detail lagi tukik ini hanya mengalami kelainan pigmen yang menyebabkan kondisi fisik tukik berubah warna. kondisi tersebut dapat diartikan sebagai Leukisme, dimana fisik kekurangan pigmentasi melamin.


Berbeda dengan kondisi albino, leukisme memiliki ciri warna putih yang tidak merata, pucat bagian tubuh mereka, kulit, bulu, atau kutikula. Oleh karena itu, hewan tidak sepenuhnya berwarna putih, beberapa bagian seperti mata tetap mempertahankan pigmen aslinya. Lain lagi dengan albino yang mana pigmen mata berubah menjadi merah atau merah muda dikarenakan aliran darah pada jaringan mata yang tembus pandang.
Di balik keunikan dan kelangkaannya, kondisi leukisme justru membawa ancaman serius bagi keberlangsungan hidup tukik tersebut. Warna gelap alami yang dimiliki lekang sejatinya berfungsi untuk kamuflase guna menghindari predator, di darat maupun di laut. Akibatnya, tukik dengan warna kerapas (cangkang atas), plastron (cangkang bawah), dan tungkai (alat gerak) yang terang atau putih justru akan lebih terlihat dan menjadi sasaran empuk predator.
Data penelitian menunjukkan bahwa dari seribu tukik yang menetas dan mencapai laut hanya 1 ekor saja yang diperkirakan mampu bertahan hidup hingga dewasa. Bagi tukik dengan leukisme, peluang tersebut kemungkinan besar menjadi jauh lebih kecil lagi untuk bisa bertahan hidup hingga dewasa.
